LOADING0

Video & Article

Beranilah Berinovasi
Beranilah Berinovasi
29 June 2015
1244 Views

Inovasi sudah semakin kehilangan maknanya. Banyak dibicarakan, tapi tetap tidak dijalankan. Bagi kebanyakan pelaku bisnis, inovasi masih menjadi alternatif kesekian. Pencapaian sales, keamanan profitabilitas masih menjadi agenda utama pimpinan perusahaan.

Meski ada sebagian pelaku yang mengkampanyekan inovasi sebagai kekuatan perusahaan, tapi maknanya seperti dikerdilkan. Ketika masih sebatas urusan trouble-shooting, sudah dikatakan berinovasi. Baru sekedar kreatif dalam urusan kampanye produk, sudah menyebut penginovasi. Bahkan ada yang lebih merendahkan arti inovasi: inovasi mudah, yang sulit komersialisasinya.

Butuh keberanian

Sekarang coba lihat perjalanan yang dilewati penginovasi seperti terlihat pada gambar berikut. Ketika berada di persimpangan antara melakukan inovasi atau mempertahankan status quo (tidak inovasi), kebanyakan pelaku lebih memilih tidak inovasi. Mengapa? Sederhana saja, sebagian besar kita dan juga pelaku bisnis adalah penghindar risiko (risk avoider).

Bagi penghindar risiko, keputusan terbaik adalah yang memberikan hasil terbaik dalam skenario terburuk. Dalam berinovasi, risiko kegagalan dari R&D sampai pengembangan produk hingga kegagalan produk di pasar begitu menakutkan. Ketika berakhir dengan kegagalan, tentunya pelakunya akan merugi. Bandingkan dengan tidak melakukan apa-apa. Meski tidak ada tambahan pendapatan, masih lebih menarik ketimbang berinovasi dan gagal.

Analisis sederhana pengambilan keputusan tersebut menjelaskan inovasi memang bukan untuk semua. Lantas apa yang membuat penginovasi sejati berani untuk mendobrak status quo dan mau berinovasi? Padahal dalam perjalanan inovasi itu sendiri begitu banyak ketidakjelasan dan ketidakpastian. Katakanlah perjalanan inovasi membuahkan suatu produk, tetap produk baru ini tidak dapat dipastikan akan sukses dipasar.

Penjelasannya sederhana saja; mereka mau menerima risiko kegagalan. Bagi risk taker yang ekstrim, kegagalan malah tidak dilihat lagi. Yang dilihat dari inovasi adalah berita menggembirakan, yaitu kesuksesan di pasar. Tentu saja penginovasi bukanlah risk taker yang ekstrim layaknya penjudi. Penginovasi tetap berhitung dengan risiko kegagalan yang dihadapi, dan menyiapkan segala antisipasinya atas kegagalan. Kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Setiap kegagalan selalu membukakan jendela-jendela kesempatan baru. Inilah keyakinan penginovasi yang sesungguhnya. Inovasi adalah proses iteratif yang melelahkan. Kegagalan demi kegagalan harus dilalui. Kesuksesan berinovasi tidak datang begitu saja. Kesuksesannya harus diupayakan.

Berani berinovasi bukanlah tanpa keyakinan. Prinsip '' bagaimana nanti '' jelas tidak berlaku bagi penginovasi. Di setiap milestone berinovasi, pelakunya yakin bahwa mereka berada di jalur yang tepat. Mulai dari ide besar inovasi, pelakunya sudah yakin ide tsb pantas untuk dikembangkan. Bayangkan mereka di industri farmasi, dengan waktu pengembangan produk terobosan yang rata-rata 7 tahun, Tidak mungkin menjalaninya tanpa keyakinan akan sukses. Menggelontorkan dana R&D dan pengembangan produk yang begitu besar dilakukan karena perhitungan matang. Begitu diluncurkan ke pasar, saat itulah masa menikmati panen keberuntungan keuangan.

Pertanyaannya, dari mana datangnya keyakinan bahwa inisiatif inovasi akan mendatangkan kesuksesan bagi perusahaan?

Teknologi & Pengguna

Ada dua perspektif yang menjelaskan suatu inovasi dihasilkan. Pertama, user-centered innovation atau inovasi yang berfokus pada kepentingan pengguna. Inovasi dihasilkan untuk menjawab problem yang ada di masyarakat pengguna. Contoh, buat mereka yang harus menjalani rehabilitasi medik setelah mengalami trauma/kecelakaan memerlukan peralatan tertentu untuk mempercepat proses pemulihan. Di sini, oportunitas inovasi berangkat dari problem pengguna. Selanjutnya penginovasi tinggal melihat jejaring penginvensi teknologi, apakah ada pemasok yang dapat merealisasikan solusi untuk masyarakat pengguna.

Sementara itu bagi segelintir perusahaan yang kuat dengan R&Dnya, temuan atau invensi yang biasanya berupakan platform teknologi dapat menjadi pembuka oportunitas-oportunitas inovasi. Contohnya teknologi batere merupakan platform bagi pengembangan mobil listrik berikutnya. Introduksi teknologi baru menjadi peretas jalan pengembangan produk baru. Buat perusahaan seperti ini pengembangan teknologi baru lewat R&D merupakan suatu investasi untuk penciptaan oportunitas baru. Sedangkan pengembangan produk baru merupakan pemanfaatan oportunitas barus untuk penciptaan profitabilitas baru.

Melihat kenyataan seperti itu, manakah pespektif inovasi yang tepat buat pelaku di sini? Masih adanya keengganan sebagian besar pelaku bisnis untuk melakukan R&D atau masih pelit dalam R&D menjelaskan technology-push innovation masih sulit terjadi. Silahkan saja cek indikator rasio R&D terhadap sales yang lazim digunakan sebagai pembeda perusahaan inovatif dari kerumunan. Adakah perusahaan di sini yang sudah menghabiskan R&D melewati 1% saja dari sales-nya? Atau kalaupun tidak melakukan R&D sendiri, apakah sudah terbiasa perusahaan melakukan akuisisi perusahaan penginvensi teknologi terdepan? Masih sulit dibayangkan terjadi di sini.

Sedangkan buat pelaku user-centered innovation, yang harus dilakukan adalah identifikasi problem yang masih ada di masyarakat pengguna. Problem mereka otomatis menjadi oportunitas inovasi bagi penginovasi. Bagi pelaku inovasi jenis ini, teknologi selalu memberikan jawaban atas problem yang ada. Di sinilah, elaku bisnis di Tanah Air akan lebih nyaman dengan inovasi yang bersumber pada pengguna.

Mampu mengidentifikasi problem yang tepat merupakan kemampuan tersendiri yang harus dimiliki. Kemampuan lainnya adalah membangun jejaring pemasok teknologi. Meski tidak memiliki kemampuan mengembangkan teknologi sendiri, pelaku inovasi tetap harus memahami kemampuan teknologi yang dibutuhkan.

Penguasaan teknologi dan pemahaman terhadap masyarakat pengguna merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki penginovasi. Dengan menguasai teknologi atau jejaring teknologi, oportunitas inovasi akan terbuka lebar. Inovasi menjadi mudah direalisasikan. Pemahaman terhadap masyarakat penggunan akan menjamin ketepatan inovasi yang dihasilkan. Inovasi nyata, pasarnya ada.

Ketika teknologi dikuasai dan pengguna dipahami, di situlah keyakinan berinovasi muncul. Selanjutnya, berbuatlah!

(Warta Ekonomi no. 11, 2015)

TOP