LOADING0

Video & Article

Menilai Kegilaan Inisiatif Inovasi
Menilai Kegilaan Inisiatif Inovasi
29 June 2015
1242 Views

Apple membuat mobil? Lewat proyek diam-diamnya bernama ''Titan'', Apple serius melakukan R&D untuk mobil listrik. Mungkin kita terkaget-kaget dengan langkah tak terduga ini. Sebelumnya Google melakukan hal serupa. Ketika mereka mengakuisisi perusahaan robot, Boston Dynamics, kita pun tak habis pikir. Apakah suatu saat, tidak lama lagi akan keluar robot-robot buatan Google sebagai teman setia manusia? Google juga sebelumnya sudah menguji coba mobil tanpa awaknya.

Bagi perusahaan seperti Apple dan Google, ketika kemampuan berkreasi dan pendanaan bukan lagi persoalan, inisiatif lompatan katak sepertinya sah-sah saja. Para pengamat yang terbiasa dengan analisa setelah kejadian (post analysis) sepertinya tidak berdaya menjustifikasi inisiatif pencilan tersebut. Tapi apakah benar tidak ada cara untuk menakar ketidaklaziman atau kegilaan suatu inisiatif inovasi?

Milestone inovasi

Ungkapan ''innovate or die'' semakin diyakini kebenarannya. Memang masih ada yang tidak percaya. Praktik ''running business as usual'' tetap dapat memberikan kenyamanan asalkan perusahaan berada dalam lingkungan yang serba stabil dan pasti. Namun, dalam lanskap ketidakpastian yang tinggi, inovasi menjadi keniscayaan.

Inovasi bukan sekadar ide besar yang membuat siapapun terpukau mendengarnya Ide besar inovasi butuh penuturan cerita yang baik dari penggagasnya. Rasionalisasi serba terukur memang tidak diperlukan dalam tahapan ideasi ini. Yang dituntut dari penggagas ide inovasi adalah kemampuan menjelaskan setidaknya mengapa, apa , dan bagaimana inisiatif inovasi tersebut direalisasikan. Siapapun dapat saja melontarkan ide-ide besar inovasi yang mengangkasa. Tapi jika gagal menjelaskan mengapa, apa dan bagaimananya, penginisiatif inovasi tidak ubahnya sedang mengukir langit, ide inovasinya bukan lagi out of the box, tapi sudah out of mind.

Supaya inisiatif inovasi tidak dianggap khayalan semata, penginisiatif inovasi pertama kali harus mampu menjelaskan apa sesungguhnya problem sekarang atau oportunitas masa depan yang coba dijawab lewat inovasi. Apple bisa saja melihat ''jobs to be done''dari mobil sekarang berupa belum terciptanya pengalaman ‘home sweet home’ selagi berada di mobil. Mobil sekarang ini baru sekedar alat transportasi yang sebatas menjalankan fungsionalitas. Silahkan bayangkan jika selagi berkendaraan, penggunanya mendapatkan kenyamanan dan kedamaian layaknya di rumah sendiri. Seperti halnya rumah, bagi sebagian penggunanya, mobil juga bisa menjadi rumah kedua yang dapat memenuhi kebutuhuan fungsional dan emosionalnya.

Sekarang bagaimana dengan Google yang masuk dalam pengembangan robot. Mengapa Google melakukannya? Apa oportunitas masa depan yang coba diraihnya? Bagi Amerika Serikat dan negara-negara industri di Eropa, sektor manufaktur sudah menjadi masa lalu. Keunggulan di jaman revolusi industri sudah hilang; sekarang sudah pindah ke negara yang jauh lebih kompetitif, seperti Cina. Namun diyakini tidak ada keunggulan abadi. Suatu saat kedigdayaan barat dalam manufaktur akan diperoleh kembali. Teknologi robot untuk manufaktur masa depan diyakini bisa mengembalikan kekuatan barat.

Setelah mampu menjelaskan kenapa harus berinovasi, penginovasi harus dapat menjelaskan bentuk inovasi yang akan dilakukan. Buat penginovasi produk, mereka harus mampu menjelaskan konsep produk yang tepat yang akan dikembangkan. Kegagalan dalam konseptualisasi merupakan salah satu penyebab kegagalan berinovasi. Bagi perusahaan lokal yang sudah dipercaya menjadi pembuat oleh prinsipal asing, inovasi proses menjadi pilihan. Kapabilitas proses yang fleksibel akan menjadi solusi atas tuntutan permintaan yang semakin beragam.

Dan terakhir penginovasi dituntut untuk mampu menjabarkan perjalanan panjang berinovasi yang akan dilalui. Di sinilah salah satu penyebab kegagalan dalam berinovasi. Bisa saja penggagas inovasi sudah berhasil menjelaskan alasan berinovasi dan menghasilkan konsep inovasi yang tepat. Tapi ketika proyek inovasi tidak dijalankan berdasarkan perencanaan yang tepat, proyek inovasi berisiko gagal.

Pesannya pun menjadi jelas. Inovasi adalah perjalanan panjang melibatkan proses discovery (penemuan oportunitas) dan delivery (realisasi oportunitas). Penginovasi sesungguhnya adalah yang mampu melakukan ''solving the right problem right''; menemukan oportunitas yang tepat kemudian merealisasikannya dengan cara yang tepat.

Ketepatan inisiatif

Inovasi yang hebat selalu berawal dari ide inovasi yang juga hebat bahkan ''gila''; yang belum terpikirkan dan terimajinasikan sebelumnya. Tantangannya adalah bagaimana mengidentifikasi ide hebat tersebut. Silahkan ingat kembali ketika dulu ada program lompatan katak seperti pembuatan pesawat terbang atau mobil nasional. Terlepas dari kenyataan sekarang yang belum menggembirakan, apakah inisiatif tersebut memang tepat buat bangsa Indonesia? Sulit mengatakannya.

Juga tengok ketika pemerintah Korea Selatan membangun indusri baja mereka di pertengahan 1960-an. Apakah itu inisiatif yang hebat mengingat mereka sebagai salah satu termiskin di dunia ketika itu. Juga lihat di awal 1970-an ketika Lee Kuan Yew berani bermimpi bahwa Singapore Airlines akan menjadi maskapai kelas dunia. Padahal saat itu, Singapore Airlines masih kalah kelas dibandingkan maskapai lainnya di regional ASEAN. Di balik segala kendala yang ada, inisiatif tidak lazim di atas berbuah manis. Posco menjadi penghasil baja kelas dunia asal Korea dan Singapore Airlines adalah salah satu maskapai penerbangan terbaik di dunia. Dengan outcome seperti itu, sulit untuk tidak mengatakan kesuksesan mereka berasal dari oportunitas yang juga tepat. Pertanyaanya adalah bagaimana menjustifikasi inisiatif inovasi di awal perjalanan inovasi yang penuh keambiguan?

Di sinilah peran pemimpin inovasi di perusahaan menjadi kritikal. Pemimpin inovasi harus mampu menerangkan sejelas-jelasnya inisiatif inovasi yang akan dijalankan kepada stakeholder di perusahaan. Pemimpin inovasi yang sesungguhnya juga dituntut untuk memperlihatkan peta jalan inovasi tsb. Ketika orang-orang yang dipimpinnya suka rela berparade untuk mewujudkan ide besar inovasi, pada saat itulah pintu pembuka jalan menuju keberhasilan terbuka. Memang, nasib inovasi sudah ditentukan sejak awal!

(Warta Ekonomi no 5, 2015)

TOP