LOADING0

News

News
Agus Purnomo: Running a Fish Business with a Simple Idea
Agus Purnomo: Running a Fish Business with a Simple Idea
23 June 2014
1242 Views

Posted on May 16, 2014 by Nimas Novi Dwi Arini | swa.co.id

Sebagai seorang pebisnis aquascape atau pencipta lanskap indah di dalam akuarium, Agus Purnomo Wibisono sungguh jeli melihat peluang. Betapa tidak, dia secara khusus menyasar para penggemar keindahan dunia bawah air buatan yang malas mengurus akuariumnya. Jadilah bisnisnya, Simple Pet, menawarkan berbagai paket aquascape yang amat memanjakan segmen sasarannya itu.

Bidang bisnis yang digeluti Agus sangat nyambung dengan gelar sarjana perikanan yang diperolehnya dari Institut Pertanian Bogor. Pengetahuan pemasaran yang diperolehnya saat kuliah S-2 Pemasaran di Prasetiya Mulya Business School belakangan turut mengasah insting bisnis pemuda berusia 28 tahun ini.

Agus Purnomo W., MMR batch 47, Runner Up of Bizcamp Challenge 2012

Sebelum berbisnis aquascape dengan bendera Simple Pet, Agus berbisnis ikan hias. Sejak 2010, dia sudah mencoba membuka toko ikan hias di Dramaga, Bogor. Ketika itu, ia melihat sebagian besar daerah ini dihuni oleh mahasiswa yang tertarik memelihara ikan. “Saya lihat mereka ini bukan hobbyist ikan, jadi saya mulai menjual paket-paket aquascape murah untuk mengincar target market konsumen di kalangan mahasiswa,” tutur Agus.

Tanggapan positif dari pelanggannya membuat ia berani mengembangkan bisnis aquascape ke Jakarta. “Sejak 2013 saya mengincar target market konsumen kelas menengah di Jakarta dengan membuka toko di daerah Kemanggisan dengan nama Simple Pet. Untuk modal awalnya, saya habiskan Rp 30 juta untuk toko di Bogor dan untuk yang Simple Pet saya habiskan Rp 40 juta,” ujarnya.

Membangun bisnis aquascape, diakuinya, gampang-gampang susah karena di awal ia mengalami kendala untuk mengedukasi pasar. Umumnya, banyak anggapan bahwa memelihara ikan harus diberi makan yang banyak, air harus sering diganti, atau ikan harus dipelihara dalam jumlah banyak agar tidak kesepian. Anggapan-anggapan seperti ini yang lantas diluruskan Agus dengan berbagai paket garansi dan percontohan. “Umumnya, jika ada konsumen kami yang menaruh akuarium di kantor, itu akan menjadi contoh bagi rekan-rekannya,” katanya.

Agus juga memaparkan, jika sistem aquascape sudah berjalan baik, sebuah akuarium dapat tidak diganti airnya sampai bertahun tahun, ditambahkan air saja untuk menggantikan air yang air menguap. “Rata rata ikan pun dapat dipuasakan sampai dengan satu minggu dalam kondisi tanpa tanaman dan dapat bertahan lebih dari dua bulan tanpa pakan dalam aquascape,” kata Agus menerangkan.

Demi mematerikan kepercayaan konsumen, dia pun memberikan paket garansi kematian ikan dan perawatan hingga tiga bulan. “Produk yang saya tawarkan ialah paket aquscape beserta layanan perawatannya,” ungkapnya. Menurut Agus, yang membedakannya dari pebisnis sejenis lainnya, ia melayani aquscape dari ukuran 20 cm x 20 cm sampai dengan ukuran besar sekali.

Rupanya inovasi tersebut di kemudian hari menjadi kunci sukses bisnisnya. Banyak kliennya yang akhirnya ikut memasang aquascape karena tergiur melihat keindahan desain lanskap dunia bawah air itu di meja teman sekantor, tanpa kerepotan mengurusnya.

Di meja kantor? “Saat ini banyak juga pelanggan yang membeli aquascape untuk diletakkan di meja kantor atau apartemen. Karena, hanya akuarium dan ikan saja binatang yang diperbolehkan dipelihara di kantor atau apartemen,” Agus menjelaskan.

Agar aquascape lebih cantik dan personal, Agus memberikan kebebasan kepada para kliennya untuk menambahkan berbagai ornamen khas seperti foto, miniatur bangunan, hingga logo perusahaan.

Bertahun-tahun menggeluti bisnis ini, Agus jadi fasih membaca tren pasar. Dulu, kata dia, konsumen lebih suka memelihara akuarium dengan dekorasi buatan seperti tebing buatan, rumah-rumahan, dengan ikan yang berukuran besar dan berwarna-warni. Namun, saat ini terjadi pergeseran tren ke arah natural yang didorong oleh perkembangan tren aquascape. “Ikan yang dipelihara umumnya berukuran kecil namun jumlahnya banyak, dekorasi yang digunakan pun lebih ke arah batu alam, kayu dan tanaman hidup,” tuturnya.

Selera ukuran akuarium pun berubah. Dulu orang umumnya memelihara ikan dalam akuarium besar atau berukuran 1 meter ke atas, saat ini justru berkembang nano aquascape dengan ukuran kecil, 25-30 cm, yang diletakkan di kantor ataupun apartemen yang minimalis.

Berkat fokus dan gigih menggarap bisnis aquascape, kini Agus sudah menggarap ratusan proyek yang tersebar di Jabodetabek, Bandung dan Bali dengan kisaran harga Rp 400 ribu-50 juta. Ke depan, ia ingin berekspansi dengan membuka kantor pemasaran di Bali dan membuka galeri aquascape miliknya di mal-mal Jakarta.(*)

TOP